Peneliti Inggris Masukkan COVID-19 ke Manusia, Bagaimana Hasilnya?

Peneliti Inggris Masukkan COVID-19 ke Manusia, Bagaimana Hasilnya?

Nasional

Ilustrasi Virus Corona. Foto: Shutter Stock

Peneliti di Inggris melakukan eksperimen pertama di dunia yakni dengan memasukkan COVID-19 kepada manusia. Lantas bagaimana hasilnya?

Sebagai catatan, COVID-19 yang dipakai ini merupakan varian terdahulu. Bukan varian delta atau Omicron yang mampu menular lebih cepat.

Secara garis besar, dari penelitian ini bisa disimpulkan COVID-19 dinyatakan aman pada orang dewasa dengan kondisi sehat. Dalam artian, mereka yang tidak memiliki penyakit penyerta.

Dikutip dari Reuters, Kamis (3/2), penelitian ini diperlukan untuk studi di masa depan terutama dalam mengembangkan vaksin dan obat-obatan baru terhadap COVID-19.

Penelitian dilakukan oleh Open Orphan (ORPH.L) bersama Imperial College London, Gugus Tugas Baksin Inggris dan perusahaan klinis Orphan hVIVO pada Februari 2021.

Total, ada 36 sukarelawan terlibat terdiri dari pria dan wanita sehat berusia 18-29 tahun. Mereka lalu diinjeksi SARS-CoV-2 dan menjalani karantina dan kemudian kondisi mereka dipantau.

Tidak ada efek samping serius yang terjadi terhadap 36 sukarelawan itu. Sehingga, para peneliti menyimpulkan COVID-19 terbukti aman dan dapat ditoleransi pada orang dewasa dengan kondisi sehat.

“Orang-orang dalam kelompok usia ini diyakini sebagai pendorong utama pandemi dan penelitian ini, yang mewakili infeksi ringan, memungkinkan penyelidikan rinci tentang faktor-faktor yang bertanggung jawab atas infeksi dan penyebaran pandemi,” kata Kepala Penelitian Chris Chiu.

Ilustrasi orang mengenakan masker. Foto: JEENAH MOON/REUTERS

36 Sukarelawan Alami Kondisi Berbeda-beda

Hasil penelitian ini juga terungkap sejumlah pengetahuan baru seputar gejala COVID-19.

Para peneliti menemukan pasien mulai merasakan gejala rata-rata sekitar dua hari setelah diinjeksi COVID-19. Ini merupakan temuan baru karena secara garis besar virus ini memiliki masa inkubasi sekitar lima hari.

Infeksi pertama kali muncul di tenggorokan. Kemudian puncak virus menular ke bagian lain sekitar lima hari setelah dinyatakan positif COVID-19.

“Pada tahap itu, virus secara signifikan lebih banyak di hidung daripada tenggorokan,” kata peneliti.

Peneliti juga menemukan bahwa tes aliran lateral yang cepat merupakan indikator yang bisa diandalkan untuk mengetahui apakah ada virus yang menular.

“Kebanyakan orang memiliki virus hidup di hidung mereka selama rata-rata 6,5 hari,” kata mereka.

Seorang pasien menggunakan teknologi non-invasif baru yang dapat mengurangi kebutuhan intubasi di area COVID-19 Rumah Sakit Centenario di Sao Leopoldo, negara bagian Rio Grande do Sul, Brasil selatan, pada 16 April 2021. Foto: SILVIO AVILA/AFP

Peneliti menjelaskan, dari 18 relawan yang terinfeksi COVID-19, sekitar16 di antaranya mengalami gejala seperti pilek ringan hingga sedang. Termasuk hidung tersumbat atau berair, bersin dan sakit tenggorokan.

Kemudian beberapa mengalami sakit kepala, nyeri otot/sendi, kelelahan dan demam. Namun tidak ada yang mengalami gejala serius.

Lalu ada 13 relawan yang terinfeksi untuk sementara kehilangan indra penciumannya. Tetapi mereka sembuh setelah 90 hari kecuali tiga peserta.

“Sisanya terus menunjukkan perbaikan setelah tiga bulan,” ucap peneliti.

Selain itu, tidak ada perubahan yang terlihat di paru-paru mereka, atau efek samping yang serius. Hanya satu orang yang memiliki gejala yang sedikit berat selama enam bulan karena indera penciuman hilang.

Lebih lanjut, para ilmuwan ini masih menyelidiki mengapa ada 16 dari 34 peserta tidak dinyatakan terinfeksi meskipun sudah diinjeksi COVID-19. Sebab, mereka dinyatakan negatif meski sudah dua kali melakukan tes PCR.

Penampakan varian Corona Delta terungkap. Foto: Dok. Jason Roberts/VIDRL – Doherty Institute, 2021

Akan Coba Penelitian Menggunakan Varian Delta

Para peneliti Imperial mengatakan, mereka kini berencana untuk memulai penelitian serupa menggunakan varian Delta.

Mereka menegaskan, penelitian ini dapat bermanfaat untuk menguji vaksin, antivirus, dan diagnostik baru terhadap COVID-19.

Imperial mengatakan, rencananya penelitian menggunakan varian Delta dilakukan akhir 2022.

Leave a Reply